Inovasi Pembelajaran Teknik dan Vokasi: Antisipasi Terhadap Perubahan Paradigma Belajar

sampul_depan_prof_waras

Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Teknologi Pembelajaran Teknik Mesin pada Fakultas Teknik disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Malang Tanggal 28 Februari 2017

Terma ‘pembelajaran teknik dan vokasi’ ini merupakan penyederhanaan dari terma Technical and Vocational Education and Training(TVET), sehingga dapat juga judul di atas disebut dengan singkat ‘Inovasi TVET’. Dalam beberapa literatur kata teknik dan vokasi kadang dipisahkan karena karakteristik capaian belajarnya yang berbeda. Akan tetapi, roh kedua jenis pendidikan dan pelatihan itu sama, yaitu sama-sama berproses untuk menghasilkan lulusan untuk mengisi lapangan kerja. Mainstream TVETdi belahan dunia pada umumnya bertumpu pada definisi pekerjaan (job) di dunia usaha dan dunia industri (DuDi). Dengan demikian, pada umumnya, berbicara tentang pembelajaran teknik dan vokasi selalu terkait dengan kalkulasi lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Di negara-negara industriTVETdigerakkan oleh DuDi (dengan menerapkan model demand-driven). Jerman adalah salah satu negara industri yang menjadi rujukan banyak negara dalam penerapan model demand-driven. Kurikulum dan pembelajarannya tidak saja disesuaikan dengan kebutuhan industri, akan tetapi pendidikan dan pelatihan pun dilakukan di sekolah dan industri dalam bentuk dual-system, dan dirujuk oleh banyak negara, termasuk Indonesia. Asumsinya adalah pembelajaran teknik dan vokasi yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja meningkatkan angka serapan lulusan sekolah dan produktivitas kerja di industri, produktivitas kerja meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan eknomi memperluas dan membuka lapangan kerja baru.

Akan tetapi, belakangan sistem ini mengundang banyak diskusi di banyak negara, karena adanya perubahan sistem ekonomi, manajemen dan struktur organisasi, serta proses di industri yang menyebabkan situasi di mana orang-orang yang menyelesaikan sistem ganda tidak lagi diambil oleh perusahaan yang berorientasi masa depan. Makin ke masa depan makin banyak pekerjaan yang sekarang ada diambil alih oleh mesin dan robot, dan sistem industri makin efisien karena komputerisasi dan peran teknologi informasi dan komunikasi. Di Jerman sekalipun, seperti negaranegara industri lainnya, yang mengalami perubahan ekonomi yang signifikan karena link and match-nya sekolah dan industri dalam dual system, faktanya sekitar setengah juta anak muda tertahan dalam ‘system transisi’ (Spöttl & Windelband, 2013) alias terkendala dalam memasuki dual-system dan penyerapan tenaga kerja di industri.Banyak perusahaan sedang dalam proses mengembangkan dan mengubah organisasi kerja, produk, dan proses kerja yang memunculkan jenis-jenis pekerjaan dan profesi baru. Di lain pihak, perluasan akses TVET telah menjadi pilihan atraktif sejumlah negara berkembang. Namun, pengalaman pendidikan beberapa negara berkembang yang bertumpu pada model demand-drivenseperti itu juga menunjukkan tak selalu mulus (untuk tidak mengatakan gagal).

Persoalan dasarnya klasik. Pendidikan kejuruan mengajarkan keterampilan yang spesifik berdasarkan prediksi kebutuhan pemangku kepentingan atau DuDi. Sementara, pemangku kepentingan membutuhkan jenis kecakapan atau keterampilan yang tidak selalu sesuai dengan kecakapan atau keterampilan lulusan TVET. Afrika Selatan yang telah melakukan peningkatan pendidikan vokasi sejak 1980-an dengan acuan standar National Qualification Framework (NQF) dan pendekatan demand-driven, pada akhirnya gagal mengembangkan pekerja terdidik melalui perluasan pendidikan kejuruan (Allais, 2012). Perluasan pendidikan kejuruan di Afrika Selatan yang semula diandalkan dapat mengatasi pengangguran, justru berakhir meningkatkan angka pengangguran karena mismatch dan masalisasi pendidikan kejuruan bertumpu pada asumsi kebutuhan pasar yang ternyata tak mudah diprediksi.

Contoh lain, Tanzania yang memprioritaskan TVET sejak akhir 1960-an dan Korea Selatan yang melakukannya sejak 35 tahun yang lalu, untuk merespon rendahnya keterampilan tenaga kerja, kedua negara itu gagal dalam kebijakan ekspansi TVET, terutama karena orang tua lebih prefer sekolah umum daripada kejuruan. Di berbagai negara, bukti empiris keefektifan pendidikan kejuruan yang dihimpun oleh David Newhouse & Daniel Suryadarma (2009) adalah bermacam-macam dan tidak pasti sebagai berikut. Lulusan SMK mendapat upah tinggi di Mesir (El-Hamidi, 2006), Israel (Neuman & Ziderman, 1991), dan Thailand (Moenjak & Worswick, 2003). Sebaliknya, lulusan sekolah umum mendapat upah lebih tinggi di Surimane (Horowitz & Schenzler, 1999), dan bagi yang melanjutkan ke universitas di Tanzania (Kahyarara & Teal, 2008). KRIVET (2008) dan Malamud & Pop-Eleches (2008) menemukan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal pasar tenaga kerja antara dua jalur pendidikan di Jerman Timur, Korea Selatan, dan Rumania. Di Indonesia, Chen (2009) mengkaji kohort siswa setelah tiga tahun lulus dan menemukan bahwa lulusan SMK, dibanding lulusan sekolah umum, upah dan hasil kerjanya sama. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah sistem TVET [yang berbasis job dan pragmatis ini] absolut? Mencari jawaban atas pertanyaan ini adalah panggilan inovasi bagi sistem TVET sekarang.

Download fullteks Pidato Guru Besar Prof. Dr. Waras Kamdi, M.Pd

You may also like...

Language >>