(0341) 571035 library@um.ac.id

Oleh : Yazid Basthomi*

Saya mengawali karir sebagai pengajar di alma mater saya, Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang (UM) pada tahun 1999. Seingat saya, lowongan ini diperuntukkan bagi dosen bidang sastra Inggris karena pada waktu itu Jurusan Sastra Inggris baru saja resmi memiliki program studi baru yaitu Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, melengkapi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris yang sudah lama berdiri, yaitu sejak berdirinya Universitas Negeri Malang di tahun 1954. Sejak awal, aroma ambivalensi saya rasakan karena latar pendidikan S1 saya di bidang Pendidikan Bahasa Inggris dengan skripsi di bidang sastra Inggris. Dalam refleksi saya pribadi, skripsi di bidang sastra inilah yang menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan saya untuk mendaftar dan akhirnya menjadi salah satu yang terseleksi untuk memenuhi ekspektasi institusi untuk menambah dosen dengan latar belakang sastra.

Menjadi dosen baru dengan bekal kualifikasi pendidikan Sarjana tentu saya merasa tidak aman dan nyaman. Keinginan untuk memperoleh kualifikasi magister dan doktor segera muncul dan menggelayut dalam benak saya. Namun IPK yang kurang menjanjikan dan bawaan gagap sejak kecil menciutkan nyali untuk dapat mengejar kesempatan untuk memperoleh kualifikasi S2 dan S3. Meskipun demikian, benak tidak dapat memungkiri bahwa keinginan untuk mendapatkan kesempatan bersekolah di luar negeri selalu menari-nari dalam sanubari. Ciut nyali tertutupi oleh keinginan untuk mengembangkan diri dengan cara melanjutkan studi. Barangkali ini adalah aplikasi konsep “kompensasi” yang masyhur dikenal di bidang psikologi. 

Sebagai pengajar baru di Jurusan Sastra Inggris, keinginan untuk belajar di negara yang menggunakan Bahasa Inggris tidak terhindari. Tampaknya ini adalah tambahan “lisensi” untuk merasa lebih percaya diri di hadapan para mahasiswa dan mahasiswi. Bayangan negara Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru sulit dibawa menepi. Negara-negara Eropa selain Inggris Raya berada pada lapisan labirin kedua dalam mimpi. Negara-negara seperti Singapura, Hong Kong, dan Filipina berada pada lapisan ketiga dari lapisan mimpi yang terbangun dalam diri. Karenanya, informasi beasiswa yang memungkinkan belajar lanjut di negara-negara yang telah ada di labirin mimpi merupakan objek perburuan tanpa henti. Fulbright, CIDA, Australian Development Scholarship (ADS), NZ Aids, NESO STUNED dan sejenisnya menjadi incaran di hati. Seingat saya, kala itu sedang terjadi paceklik tawaran beasiswa dari kementerian pendidikan Indonesia. Penyiapan berkas-berkas lamaran untuk mendapatkan beasiswa pada gilirannya adalah aktivitas pokok sejak 1999 sampai 2001. Penolakan demi penolakan atas sejumlah aplikasi studi lanjut baik yang langsung dikirimkan ke institusi perguruan tinggi maupun ke institusi pemberi beasiswa kemudian menjadi bagian dari cerita yang menegaskan validitas kekhawatiran akan IPK yang kurang meyakinkan.

Upaya untuk bertanya tentang berbagai informasi tentang beasiswa termasuk trik dan tips dari dosen yang lebih senior dan kolega yang relatif sebaya yang telah berhasil mendapatkan beasiswa adalah langkah selanjutnya. (Perlu digaris bawahi di sini bahwa tidak pernah muncul opsi kuliah ke luar negeri tanpa dengan beasiswa mengingat realita gaji pegawai negeri yang tersandang). Dari beberapa kali kegagalan, suatu saat amplop besar kuterima sebagai jawaban akan aplikasi yang dikirim ke kantor ADS di Jakarta yang berarti saya terseleksi secara administratif dan dipanggil untuk mengikuti proses seleksi selanjutnya yaitu tes Bahasa Inggris dan wawancara. Ini terkait beasiswa ADS untuk mendapat pendanaan kuliah di Australia di samping beberapa kali tes seleksi beasiswa Fulbright untuk kuliah di Amerika Serikat namun berujung pada kegagalan pada periode-periode sebelumnya. 

Tes Bahasa Inggris dan wawancara sebagai rangkaian seleksi beasiswa ADS berujung pada kegagalan lagi. Kegagalan ini membawa pada sepercik pemahaman bahwa sulit untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri pada bidang yang tidak menjadi prioritas yang digariskan oleh sponsor. Perlu diketahui bahwa pada berkas aplikasi yang membawa pada wawancara seleksi ADS yang berujung kegagalan ini bidang sastra menjadi pilihan saya karena terobsesi dengan loyalitas pada dan linieritas dengan bidang lowongan yang telah membawa saya terseleksi menjadi pengajar di Jurusan Sastra Inggris, UM.

Academic Convert: Sebuah Keniscayaan

Kegagalan setelah terpilih untuk mengikuti wawancara seleksi beasiswa ADS ini “memaksa” saya untuk berpikir pragmatis. Pertimbangan pragmatis ini membawa pada keputusan untuk mengulang aplikasi namun dilakukan dengan pola berdamai dengan prioritas bidang yang digariskan oleh sponsor. Pilihan yang terlihat paling mungkin saat itu adalah bidang pendidikan karena latar belakang pendidikan saya adalah Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris (meskipun dengan skripsi bidang sastra). Oleh karena itu, bidang pendidikan dengan spesifikasi yang terkait dengan pengajaran bahasa dengan nama program applied linguistics menjadi pilihan yang terasa paling masuk akal. Konsekuensi dari pilihan ini terprediksi dan klise—meski tentunya secara personal relatif menyenangkan: berhasil.

Berhasil terseleksi dan mendapatkan beasiswa ADS mengantarkan pada perjalanan studi S2 di salah satu kampus di Australia Barat. (Perlu pula ditambahkan di sisi bahwa pada saat menunggu jadwal keberangkatan ke Australia, lamaran untuk melanjutkan studi pada jenjang S2 di salah satu kampus di Swedia dan pada saat hampir bersamaan juga salah satu kampus di Belanda juga berhasil terseleksi). Sejalan dengan pertimbangan pragmatis dalam memilih bidang studi, pilihan untuk studi di Australia Barat juga tidak luput dari pertimbangan pragmatis: agar murah bagi anggota keluarga ketika menjenguk.

Ketika memilih jenis program studi S2, pilihan jatuh pada jenis program tengah, yaitu S2 model fifty-fifty (perkuliahan dan riset masing-masing berbobot 50%). Namun ketika sampai di kampus yang dituju, ternyata program S2 fifty-fifty ini ditutup dan pilihan untuk mengambil S2 dengan riset tidak disetujui oleh pihak sponsor karena profil saya sama sekali tidak meyakinkan bahwa saya cocok untuk studi S2 dengan mengambil jalur riset. Meski S2 dengan perkuliahan yang by design hanya berdurasi 2 semester ini tergolong S2 level paling bawah, ternyata saya sungguh jungkir balik dalam mengikuti perkuliahan yang ada sampai-sampai saya berkontemplasi yang berisi sebagai berikut: enak sekali jika kuliah jalur riset, tidak ada tuntutan untuk menghadiri kuliah dengan jadwal dan bacaan yang telah ditentukan karena semuanya tergantung pada pengaturan waktu dan irama kerja yang dimainkan oleh mahasiswa sendiri.

Academic Convert: Berubah

Mengikuti program S2 by coursework (dengan perkuliahan) ini mengantarkan saya pada pengambilan beberapa mata kuliah pilihan. Pada titik ini secara pribadi saya mengangankan untuk mengambil mata kuliah kesastraan demi untuk memberi aksentuasi kesastraan pada program S2 saya agar ada secercah garis linieritas dengan skripsi S1 dan lowongan yang saya ambil untuk menjadi pengajar di Jurusan Sastra Inggris, UM. Namun demikian ada pendapat dari orang kuat di dekat saya yang “memaksa” saya untuk mengambil mata kuliah pondasi riset dan riset di bidang pengajaran. Hal ini tampaknya didasarkan pada pertimbangan bahwa saya memiliki kelemahan pemahaman maupun pengalaman dalam riset. Paksaan pemilihan ini pada gilirannya merupakan sesuatu yang saya syukuri karena saya mendapat banyak hal dalam keikutsertaan saya dalam dua mata kuliah riset tersebut. 

Selain materi pokok mata kuliah, saya juga mendapatkan kesempatan bersosialisasi dengan mahasiswa S1 program honors (B.A. Honors). Mahasiswa B.A. Honors ini adalah mahasiswa S1 yang memiliki kemampuan, kemauan, dan ketertarikan dalam bidang riset atau yang biasa kita kenal dengan jalur skripsi di konteks pendidikan di Indonesia. Hal menunjukkan bahwa dalam sistem pendidikan Australia (yang akhir-akhir ini saya dapati juga diterapkan di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat), kegiatan riset dalam yang berujung pada penulisan skripsi bagi mahasiswa S1 bukan sesuatu yang wajib, namun dibuka untuk mahasiswa yang memiliki kemampuan, kemauan, dan ketertarikan. Saya melihat poin ini sebagai bentuk kebijakan pendidikan yang mengamalkan konsep multiple intelligences yang dalam pandangan saya pribadi sebagai kebijakan yang lebih manusiawi, baik bagi mahasiswa maupun bagi dosen pembimbing.

Perlu diketahui bahwa saya mengambil mata kuliah pilihan pondasi riset dan riset dalam bidang pengajaran ini di Fakultas Pendidikan, bukan di Fakultas Bahasa dan Pendidikan antar Budaya (School of Languages and Intercultural Education) sebagai tempat utama program gelar S2 saya. Meskipun kedua mata kuliah pilihan ini kesemuanya “dunia baru” bagi saya, ternyata nilai yang saya dapat untuk kedua mata kuliah ini adalah nilai yang tertinggi yang dapat saya capai selama menempuh perkuliahan S2. Tidak ada mata kuliah lain yang saya ambil di Fakultas Bahasa dengan nilai setinggi kedua mata kuliah tersebut.  

Program S2 by coursework ini mengharuskan penyelesaian tugas-tugas dengan jadwal yang ketat. Tugas-tugas yang kebanyakan berupa penulisan makalah ini membuka mata saya akan perbedaan ekspektasi retorika tulis. Praktek menulis sejauh yang saya ketahui berdasar tutelage yang telah saya lalui di Indonesia ternyata sering kali dinilai terlalu berputar-putar dan kurang berhasil untuk segera membahas inti permasalahan atau topik yang ditulis. Kondisi ini memaksa saya untuk bertindak seperti menjadi orang lain: berusaha seolah-olah menjadi orang Australia yang cara menulisnya cenderung langsung membahas isu pokok yang terindikasikan di judul sejak menulis kalimat pembuka. Di sini saya mengalami bentuk lain sebagai academic convert: akademisi Indonesia yang berusaha untuk bertindak dengan pola tulis akademisi Australia (sejauh pemahaman saya).

Pengalaman sebagai academic convert ini selanjutnya membawa saya untuk ingin menganalisis kecenderungan pola penulisan makalah atau artikel yang ditulis oleh akademisi Indonesia. Keinginan ini membawa saya untuk memasuki program S3 di alma mater di Indonesia menyusul selesainya program S2 saya di Australia. Perjalanan S3 ini lebih meyakinkan saya bahwa tidak ada jalur kembali pada bidang sastra yang lowongannya telah membawa saya menjadi pengajar di Jurusan Sastra Inggris, Universitas Negeri Malang (UM). Dengan kata lain, entah sadar atau tidak, saya ternyata telah burned my boat sehingga yang perlu saya lakukan adalah terus berjalan ke depan sebagai academic convert yang telah mengalami perubahan trajektori karena telah mendapat tutelage dalam bidang applied linguistics.

Mencopot Label

Giliran berikutnya adalah rasa ingin untuk segera terbebas dari label academic convert yang saya sematkan pada diri saya sendiri. Label academic convert terkait bidang studi relatif mudah saya atasi karena sekembali dari perjalanan S2 saya ke alma mater, saya tidak diberi tugas untuk mengampu mata kuliah kesastraan. Namun makna academic convert dalam hal retorika tulis tidak mudah saya orkestrasikan karena saya merasa conversion yang ada adalah bekal saya untuk dapat bergerak osilatif dari retorika Indonesia ke retorika Inggris (Australia) dan sebaliknya sesuai kepentingan. Conversion ini yang justru pada giliran selanjutnya saya gunakan untuk kepentingan positif yang kemudian saya maknai sebagai comparative outlook atau pemahaman komparatif. 

Kegiatan pengajaran yang saya ampu dalam hal penulisan karya ilmiah dan penyusunan proposal penelitian juga mengandalkan bekal pemahaman komparatif ini. Kegiatan pembimbingan skripsi, tesis, dan disertasi (baik disertasi dalam negeri maupun luar negeri] juga mengandalkan bekal pemahaman ini. Kegiatan sebagai kontributor pengambilan keputusan dan upaya revisi buku pedoman penulisan karya ilmiah sebagai meta genre di kampus alma mater juga memanfaatkan pemahaman komparatif ini. Pemahaman komparatif ini pula yang menjadi bekal saya dalam menjalani pekerjaan yang banyak berurusan dengan penulisan surat-surat baik dalam Bahasa Indonesia maupun Bahasa Inggris. Hal kecil yang sering saya alami terkait dengan persuratan ini adalah masalah penulisan gelar dan penulisan jabatan. Seringkali saya harus berhadapan dengan ekspektasi dan praktek penulisan gelar berdasar norma dan praktek di Indonesia ketika menulis surat dalam Bahasa Inggris. 

Refleksi Komparatif: Epilog

Seiring dengan semakin meningkatnya kegiatan internasional di alma mater sebagaimana juga terjadi di kampus-kampus lain, banyak persuratan dan dokumen yang harus ditulis dalam Bahasa Inggris. Dalam praktek penulisan persuratan dalam Bahasa Inggris ini, saya mendapati sebagian orang di kampus cenderung menulis nama dan gelar komplit berderet sesuai kebiasaan menulis gelar dalam persuratan berbahasa Indonesia. Deretan penulisan gelar dalam persuratan berbahasa Indonesia biasanya juga meliputi gelar di belakang nama, misalnya M.Si, M.Pd, M.Sc., dan Ph.D. Sementara yang saya amati, penulisan gelar dalam persuratan berbahasa Inggris cenderung lebih simpel: cenderung cukup dilakukan dengan menuliskan gelar tertinggi dan biasanya yang tersemat di depan nama. Selain itu, dalam konteks negara pengguna Bahasa Inggris, berbagai gelar doktor yang antara lain berupa Ph.D., Ed.D., D.S., D.Sc. D.Litt. dan lain-lain juga sering ditulis dengan versi simpel, yaitu Dr. yang disematkan di depan nama. Namun di konteks kampus alma mater saya beberapa kali mendengar adanya ketakutan staf administrasi karena dianggap telah teledor menulis gelar seseorang dengan menulisnya Dr. sementara penyandang gelar mengatakan gelarnya bukan Dr. tetapi Ph.D. Di sisi lain, sebatas penglihatan saya tentang persuratan di negara pengguna Bahasa Inggris bahkan kadang gelar tidak ditulis tetapi cukup dicantumkan nama dan jabatan.

Demikian pula dalam meletakkan informasi tentang jabatan. Dalam persuratan berbahasa Indonesia, jabatan biasanya di tulis di atas nama, sementara dalam persuratan berbahasa Inggris jabatan cenderung dituliskan di bawah nama. Ketika berurusan dengan hal-hal seperti ini, kadang saya harus menjelaskan ke berbagai pihak karena surat dalam Bahasa Inggris yang saya siapkan menggunakan pemahaman komparatif yang telah saya miliki dan praktek ini berbeda dengan ekspektasi dan kebiasan tata penulisan persuratan dalam Bahasa Indonesia. Pada situasi seperti ini kadang saya harus berhadapan dengan argumen tentang perlunya untuk menyuarakan konsep Indoglish (Indonesian English) dengan semangat pascamodernitas di mana keIndonesiaan harus dikampanyekan oleh orang Indonesia sendiri tanpa perlu mengikuti norma dan tata penulisan persuratan dalam Bahasa Inggris. 
Atas berbagai kemungkinan argumen, meski tentunya saya memiliki keyakinan tertentu, saya mendukung kebiasaan pola pikir akademis untuk selalu terbuka terhadap berbagai kemungkinan: to put things in perspective.

*Yazid Basthomi adalah profesor bidang applied linguistics di program studi Bahasa dan Sastra Inggris, Departemen Sastra Inggris, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang. Beliau adalah pendiri dari Research Group on Linguistics (RoLing), dan saat ini bertindak sebagai pembimbing penulisan PhD thesis di Charles Darwin University, Australia.