(0341) 571035 library@um.ac.id

Oleh: Djoko Saryono *

Kita bersama telah mengetahui, selepas agenda jagat Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s) berakhir, kita berhadapan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG’s). Sebagai insan dan/atau sarjana perpustakaan, kita tidak perlu bertanya apakah perpustakaan memiliki relevansi dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Demikian juga kita tidak perlu bertanya apakah insan dan/atau sarjana perpustakaan memiliki peran dan tanggung jawab untuk merealisasikan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sekarang bukan saatnya kita bertanya tentang semua hal tersebut di atas. Kita harus percaya, berbagai asosiasi dan organisasi antarbangsa di bidang perpustakaan dan ilmu perpustakaan sudah memberikan jawaban tentang hubungan sangat erat perpustakaan dan pencapaian Tujuan Pembangunan Bekelanjutan.

Dalam konferensi yang menjadi ajang muhibah keilmuan perpustakaan ini hendaknya kita langsung menegaskan bahwa perpustakaan dan ilmu perpustakaan memiliki posisi, peran, dan tanggung jawab besar untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Keselamatan dan keberlanjutan manusia dan planet bumi yang menjadi tujuan pokok Tujuan Pembangunan Berkelanjutan jelas juga menjadi tanggung jawab dan tugas bidang perpustakaan dan ilmu perpustakaan. Tatkala semua sektor kebudayaan dan peri kehidupan dengan suka cita ikut memikul tanggung jawab tersebut, dunia perpustakaan dan ilmu perpustakaan tak boleh berpangku tangan, diam terpaku tanpa ikut berbuat sesuatu demi kelangsungan hidup manusia dan planet bumi layak huni, bahkan hidup semua makhluk planet bumi. Untuk itu, secara khusus tujuh belas tujuan utama Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yang telah dicanangkan perlulah didukung penuh oleh para pustakawan dan sarjana perpustakaan, bahkan para pemangku perpustakaan.

Kita mesti yakin bahwa peran, tanggung jawab, aksi nyata, dan aktivi bidang perpustakaan dan ilmu perpustakaan sangat strategis sekaligus kontekstual dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Sebab itu, baik asosiasi dan organisasi bidang perpustakaan dan ilmu perpustakaan maupun pustakawan dan sarjana ilmu perpustakaan perlu merumuskan rancangan dan model perpustakaan yang responsif terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Untuk itu, penting bagi kita semua untuk berbagi wawasan, pandangan, sudut pandang, dan pengalaman tentang usaha-usaha membangun perpustakaan yang mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

Guna ikut serta mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, perpustakaan beserta pustakawan, sarjana ilmu perpustakaan, dan para penanggung jawab perpustakaan patut ikut membentuk kesadaran ekologis, sosial, dan ekonomi para pengunjung perpustakaan, bahkan bila mungkin masyarakat. Para sarjana ilmu perpustakaan patut memberikan urunan pikiran dan usulan pandangan tentang ilmu perpustakaan yang berwawasan ekologis, sosial, dan ekonomik. Untuk itu, pengembangan dan pelayanan perpustakaan masa depan perlu berdasar pada pendekatan ekologis, sosial, dan ekonomik secara serempak. Demikian juga pengembangan ilmu perpustakaan patut diorientasikan pada keseimbangan ekologi, sosial, dan ekonomi.

Di situlah perpustakaan bukan lagi menjadi gudang penyimpanan pustaka, tempat melayankan pustaka, dan tempat membaca-menulis yang nyaman. Perpustakaan perlu dijadikan sebagai ruang publik hijau dan segar dari sisi lingkungan, tempat interaksi sosial yang membuat orang bermartabat, dan tempat belajar aktivi ekonomi. Hal ini perlu didukung oleh ilmu perpustakaan – bukan ilmu perpustakaan yang disipliner mengembangkan hal-hal teknis kepustakaan mulai pengadaan, pengolahan, penelusuran, dan pelayanan koleksi pustaka, melainkan ilmu perpustakaan yang interdisipliner yang ikut bertanggung jawab terhadap kesadaran dan kecakapan ekologis, sosial, dan ekonomik. Oleh karena itu, ilmu perpustakaan perlu dikembangkan dengan pendekatan ekologis, sosial, dan ekonomis. Sudah adakah perpustakaan seperti tersebut? Sekarang kita sedang tergopoh-gopoh mengembangkan perpustakaan digital, mungkin belum sempat melakukan aksi nyata membangun perpustakaan ekologis, sosial, dan ekonomik secara serempak. Mampukah para sarjana ilmu perpustakaan memberikan usulan ilmu perpustakaan berwawasan ekologis, sosial, dan ekonomik?

Masa depan perpustakaan dan ilmu perpustakaan – demikian pula perpustakaan dan ilmu perpustakaan masa depan – bergantung pula pada kemauan dan kecakapan kita menautkan perpustakaan dan ilmu perpustakaan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Adaptasi dan kontekstualisasi perpustakaan dan ilmu perpustakaan dengan agenda SDG’s tersebut menentukan juga maju mundurnya perpustakaan dan ilmu perpustakaan pada masa depan. Selain kecakapan kita menempatkan perpustakaan dan ilmu perpustakaan dalam agenda-agenda besar seperti Tujuan Pembangunan Berkelanjutan tersebut, kegesitan aktiviti kita merombak model perpustakaan sesuai kebutuhan dan tantangan masa depan ikut pula menentukan keberlanjutan perpustakaan dan ilmu perpustakaan. Kita harus menyadari bahwa semua sektor kebudayaan seperti perpustakaan dan ilmu perpustakaan dapat usang dan hancur bilamana menolak perintah sejarah untuk beradaptasi, berkontekstualiasi, dan bertransformasi dengan lingkungan baru. Sejarah telah memberi hikmah kepada kita bahwa pada masa lalu banyak perpustakaan besar dan ternama runtuh dan hancur, tidak memiliki keberlanjutan, akibat menolak perubahan besar yang harus dihadapinya. Kita harus belajar dari kehancuran perpustakaan pada masa lalu akibat kerusakan lingkungan, kesenjangan sosial, dan ketimpangan ekonomi. Semoga kita mampu merumuskan keberlanjutan perpustakaan dan ilmu perpustakaan masa depan yang selaras dan berguna bagi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.

*Djoko Saryono merupakan guru besar bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Departemen Sastra Indonesia, Universitas Negeri Malang. Beliau telah menulis dan menerbitkan beberapa buku mengenai linguistik, sastra, dan pendidikan, seperti Linguistik Bandingan (2011), Dasar Apresiasi Sastra (2009), Tata Kalimat Bahasa Indonesia (2012), Model-model Pembelajaran Mutakhir (2001), dan lainnya. Ada pula karya fiksi yang ditulisnya, seperti Kemelut Cinta Rahwana (2015) dan Arung Cinta (2015). Menjabat sebagai Kepala UPT Perpustakaan UM sejak 2015-2022, kini beliau adalah Direktur UPT Pusat Studi Bahasa dan Budaya UM.