{"id":10855,"date":"2024-10-10T13:51:29","date_gmt":"2024-10-10T06:51:29","guid":{"rendered":"https:\/\/lib.um.ac.id\/?p=10855"},"modified":"2024-10-10T13:52:05","modified_gmt":"2024-10-10T06:52:05","slug":"ideologi-pancasila-roh-progresif-nasionalisme-indonesia-hariyono","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/2024\/10\/10\/ideologi-pancasila-roh-progresif-nasionalisme-indonesia-hariyono\/","title":{"rendered":"Ideologi Pancasila : roh progresif nasionalisme Indonesia \/ Hariyono"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pancasila sejak tahun 1945 menjadi roh atau labeling nasionalisme. Pancasila sebagai dasar negara kemudian menjadi rujukan berjalannya negara besar Indonesia. Namun pasca reformasi, muncul beberapa suara yang mempertanyakan kembali eksistensi Pancasila pun juga sebagai ideologi bangsa. Buku ini menjelaskan bahwa ideologi pancasila tak perlu di ragukan lagi untuk dijadikan sebagai pandangan hidup bagi bangsa ini. Selain pancasila merupakan murni gagasan politik yang lahir dari para anak bangsa di tengah pergumulan antara persaingan blok barat dan blok timur di masa lalu, juga merupakan gagasan dasar tentang arsitektur hukum dasar bagi sebuah negara. Sebuah refleksi mendalam perjalanan pancasila dengan penuh optimisme bahwa dalam situasi yang sulit selalu muncul kelompok pemuda yang berhasil menjadi pelopor dalam mengatasi situasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sinopsis<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejak pertama kali disahkan sebagai dasar Negara pada tahun 1945, Pancasila menjadi dasar atau pondasi&nbsp; dan rujukan bagi berdirinya Indonesia sebagai Negara yang besar dan berdaulat. Sebuah peristiwa besar reformasi menjadi awal dari penentuan eksistensi Pancasila yang dipertanyakan dari beberapa pihak tentang ideologi bangsa. Buku &#8220;Ideologi Pancasila Roh Progresif Nasionalisme Indonesia&#8221; karya Prof. Dr. Hariyono, M.Pd. telah hadir untuk menjawab tentang keraguan tersebut. Penjelasan bahwa Pancasila tidak hanya tetap relevan namun merupakan pandangan hidup yang harus dipegang teguh oleh seluruh bangsa Indonesia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penekanan bahwa Pancasila sebagai gagasan murni politik yang terlahir dari perjuangan bangsa Indonesia di tengah persaingan antara blok Barat dan Timur pada masa lalu. Lebih dari itu, Pancasila juga merupakan arsitektur hukum dasar yang mengatur kehidupan bernegara Indonesia. Sebuah refleksi mendalam tentang perjalanan Pancasila dari masa ke masa serta memberikan kepercayaan diri dalam optimism bahwa dalam situasi sulit akan selalu ada kelompok pemuda yang berperan sebagai pelopor untuk mengatasi tantangan tersebut<\/p>\n\n\n\n<div data-wp-interactive=\"core\/file\" class=\"wp-block-file\"><object data-wp-bind--hidden=\"!state.hasPdfPreview\" hidden class=\"wp-block-file__embed\" data=\"https:\/\/lib.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/fullteks-7.pdf\" type=\"application\/pdf\" style=\"width:100%;height:600px\" aria-label=\"Embed of fullteks.\"><\/object><a id=\"wp-block-file--media-53e4385b-aed2-40c2-9443-755cf0dd1213\" href=\"https:\/\/lib.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/fullteks-7.pdf\">fullteks<\/a><a href=\"https:\/\/lib.um.ac.id\/wp-content\/uploads\/2024\/10\/fullteks-7.pdf\" class=\"wp-block-file__button wp-element-button\" download aria-describedby=\"wp-block-file--media-53e4385b-aed2-40c2-9443-755cf0dd1213\">Download<\/a><\/div>\n\n\n\n<div style=\"height:464px\" aria-hidden=\"true\" class=\"wp-block-spacer\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pancasila sejak tahun 1945 menjadi roh atau labeling nasionalisme. Pancasila sebagai dasar negara kemudian menjadi rujukan berjalannya negara besar Indonesia. Namun pasca reformasi, muncul beberapa suara yang mempertanyakan kembali eksistensi Pancasila pun juga sebagai ideologi bangsa. Buku ini menjelaskan bahwa ideologi pancasila tak perlu di ragukan lagi untuk dijadikan sebagai pandangan hidup bagi bangsa ini. [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10858,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_et_pb_use_builder":"","_et_pb_old_content":"","_et_gb_content_width":"","footnotes":""},"categories":[192],"tags":[],"class_list":["post-10855","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-karya-langka"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10855","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10855"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10855\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10860,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10855\/revisions\/10860"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10858"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10855"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10855"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/lib.um.ac.id\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10855"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}