Desain program pembelajaran berbasis multiple representation melalui cognitive dissonance untuk mereduksi miskonsepsi kimia

3
Prof. Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Akademik Universitas Negeri Malang Tanggal 12 Mei 2022

Mindset yang tertanam dalam benak siswa bahwa kimia itu sulit menjadikannya enggan untuk belajar kimia. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa tingkat pemahaman siswa kelas 12 terkait materi asam basa sebesar 6,49% siswa yang paham konsep dan sebanyak 36,67% siswa tidak paham konsep. Pada kelas 11 menunjukkan hasil siswa yang paham konsep sebanyak 24,09% dan siswa yang tidak paham konsep sebanyak 25,61%. Faktor yang menyebabkan rendahnya pemahaman konsep kelas 12 dibandingkan dengan kelas 11 karena rendahnya retensi pemahaman konsep yang dimiliki oleh kelas 12. Jangka waktu kelas 12 memahami konsep asam basa dengan mengerjakan tes asam basa sangat lama sedangkan kelas 11 sekitar 1-2 minggu (Widarti et al., 2020). Faktor internal penyebab kesulitan belajar meliputi pemahaman terhadap materi kimia, kemampuan matematika rendah, dan kurangnya motivasi belajar kimia. Faktor eksternal penyebab kesulitan belajar meliputi metode mengajar yang diterapkan guru, pengaruh negatif teman sebaya, keadaan dan waktu pembelajaran yang kurang kondusif (Yunitasari et al., 2019). Permasalahan yang terjadi pada materi kimia dapat disebabkan oleh ketidakmampuan siswa melakukan transisi pemahaman di antara representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik sehingga berpotensi menyebabkan pemahaman siswa menjadi tidak tepat dan bahkan cenderung menimbulkan miskonsepsi (Santos & Arroio, 2016). Salah satu kesulitan siswa dalam mempelajari kimia adalah tidak mampu mengkorelasikan pemahaman dari satu level representasi menuju level representasi lainnya (Farida et al., 2010). Miskonsepsi ini dapat menimbulkan konflik yang muncul ketika siswa merasa ketidakbenaran antara materi dan perilaku seseorang atau bisa disebut dengan cognitive dissonance. Seseorang harus termotivasi untuk mengurangi konflik itu, secara umum dengan mengubah keyakinan seseorang untuk menambahkan semangat belajar (Widarti et al., 2021). Dari uraian tersebut tentang ketiga aspek terkait multiple representation, miskonsepsi, dan cognitive dissonance memiliki peranan dalam proses kegiatan belajar kimia siswa. Oleh karena itu, inovasi pembelajaran perlu dikembangkan untuk mereduksi miskonspsi pada materi kimia.
Download fullteks klik disini

You may also like...

Language >>