Pidato Ilmiah “Lembar kerja mahasiswa berbasis PBL pada matakuliah materi dan pembelajaran fisika” oleh Prof. Dr. Parno, M.Si

prof

Prof. Dr. Parno, M.Si

Pidato Ilmiah “Lembar kerja mahasiswa berbasis PBL pada matakuliah materi dan pembelajaran fisika” oleh Prof. Dr. Parno, M.Si. Pidato Pengukuhan Guru Besar Universitas Negeri Malang (UM) Kamis, 23 September 2021.Di Graha Cakrawala UM.

Guru hendaknya memiliki kompetensi profesional minimal 80 [1], dan merupakan kunci kualitas pembelajaran sehingga perannya tidak bisa digantikan oleh apapun [2]. Sejumlah matakuliah sampai semester kelima seperti Fisika Dasar I, II & III, Elektronika Dasar, Fisika Modern, Termodinamika, Mekanika, Getaran Gelombang Optik, Elektromagnet disajikan sebagai bekal pemahaman materi fisika sekolah kepada mahasiswa [3]. Tetapi, perkuliahan ini lebih ditujukan agar mahasiswa mendalami fisika lebih lanjut. Berarti, pembekalan materi fisika sekolah mahasiswa secara operasional sulit dilakukan melalui matakuliah bidang studi. Solusinya adalah menyajikan matakuliah Materi dan Pembelajaran Fisika (MPF) dengan bobot 3 sks/3 js yang disajikan pada semester V. Maksud disajikannya matakuliah ini adalah untuk menstrukturisasi kembali materi fisika yang telah diterimanya pada semester sebelumnya, yang meliputi fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori fisika, sekaligus sebagai bekal matakuliah pembelajaran berikutnya, khususnya KPL [3]. Dalam dua tahun terakhir perkuliahan MPF pada mahasiswa angkatan 2014 dan 2015 belum membuahkan hasil optimal. Untuk angkatan 2014, yang membebaskan mahasiswa untuk mencari permasalahan fisika sekolah berupa soal yang ada dalam buku literatur Fundamental Physics dan membahasnya dengan basis multirepresentasi, hanya memperoleh skor rata-rata 33,50. Untuk angkatan 2015, yang yang permasalahannya berupa miskonsepsi dari jurnal ilmiah, yang pembahasannya melibatkan multirepresentasi dan buku literatur Fundamental Physics dan buku BSE,juga menghasilkan skor rata-rata yang belum bagus, yakni 36,18.

Permasalahan di atas memiliki kelemahan, yakni mahasiswa mencari sendiri permasalahannya sehingga lingkupnya terlampau sempit dankurang problematik. Menyediakan permasalahan yang problematik dan kontekstual merupakan tantangan guru pada abad ke-21 sehingga selama pembelajaran siswa dapat belajar secara aktif dan dapat mengkonstruk sendiri pengetahuannya secara bermakna [4]. Penyelesaian permasalahan yang problematik dan kontekstual secara konstruktif dan bermakna memungkinkan siswa dapat mengembangkan pemahaman materi bidang studi secara optimal selama pembelajaran. Dengan demikian perlu dikembangkan satu dan atau beberapa permasalahan problematik yang memiliki lingkup lebih luas. Agar permasalahan tersebut dapat disajikan secara terstruktur dan dibahas secara sistematis, maka perlu diwujudkan dalam bentuk Lembar Kegiatan Mahasiswa (LKM).

Untuk donwload fullteks,silakan klik disini

You may also like...

Language >>