“MERDEKA BERBAHASA DAN BERSASTRA UNTUK MERDEKA BELAJAR”, oleh Prof. Dr. Djoko Saryono , M.Pd.

Salah satu persoalan mendasar kebudayaan dan pendidikan kita ialah terbatasnya daya pikir, daya imajinasi, dan daya ekspresi bangsa kita sehingga kreativitas dan inovasi bangsa masih jauh dari harapan dan kalah dibandingkan dengan berbagai bangsa lain, padahal masa depan bangsa kita sangat bergantung pada kreativitas dan inovasi. Di samping karena ekosistem dan ruang berpikir, berimajinasi, dan berekspresi yang masih terbatas dan belum kondusif, hal tersebut disebabkan oleh tidak atau kurang merdekanya bangsa kita dalam berpikir, berimajinasi, dan berekspresi.
Ekosistem dan ruang simbolis, sosial, dan material yang ada sering tidak mendukung atau malah membatasi kemauan, kegemaran, dan kebiasaan berpikir, berimajinasi, dan berekspresi bangsa kita secara maksimal. Demikian juga ketakbebasan, ketakberanian (ketakutan), kemalasan, dan ketakmandirian berpikir, berimajinasi, dan berekspresi mengakibatkan ketakmerdekaan berpikir, berimajinasi, dan berekspresi, yang selanjutnya hal tersebut dapat menimbulkan “kemiskinan” daya pikir, daya imajinasi, dan daya ekspresi bangsa. Di sinilah diperlukan kebijakan dan program pemerdekaan berpikir, berimajinasi, dan berekspresi. Merdeka berpikir, berimajinasi, dan berekspresi tentang sesuatu selalu menggunakan sekaligus berada di dalam sistem simbol mengingat manusia makhluk simbolis (homo symbolicum/animal symbolicum) di samping di tengah konteks sistem sosial (masyarakat dan komunitas, misalnya) dan sistem material (teknologi dan ekonomi, misalnya). Artinya, manusia atau orang (termasuk bangsa Indonesia) tak mungkin (mustahil) dapat berpikir, berimajinasi, dan berekspresi di luar sistem simbol.

Dowonload Fullteks Disini

Sumber: http://sastra-indonesia.com/2020/02/merdeka-berbahasa-dan-bersastra-untuk-merdeka-belajar/

You may also like...