Universitas Racun Sosial bekerja sama dengan CRCS UGM & Watchdoc Documentary akan memutar Film “Beta Mau Jumpa”

Universitas Racun Sosial bekerja sama dengan CRCS UGM & Watchdoc Documentary akan memutar Film 'Beta Mau Jumpa'

Universitas Racun Sosial bekerja sama dengan CRCS UGM & Watchdoc Documentary akan memutar Film ‘Beta Mau Jumpa’

.
Universitas Racun Sosial bekerja sama dengan CRCS UGM & Watchdoc Documentary akan memutar Film ‘Beta Mau Jumpa’.

  • Hari, Tanggal : Jumat, 14 Februari 2020
  • Jam : 18.30-21.00 WIB
  • Tempat : Kafe Pustaka, Perpustakaan Pusat Universitas Negeri Malang

Tak lama setelah berakhirnya Orde Baru pada 1998, Indonesia menyaksikan kekerasan komunal di sejumlah daerah. Salah satunya adalah konflik antaragama di Ambon yang terjadi pada 1999-2002 dan menelan korban tak kurang dari lima ribu jiwa dan mengakibatkan setengah juta orang mengungsi.
Bagaimana situasinya kini di Ambon? Film Beta Mau Jumpa mengangkat kisah rekonsiliasi sehari-hari dari akar rumput dengan fokus pada gerakan perdamain yang diinisiasi kaum perempuan dan anak muda. Gerakan perempuan dan anak muda ini berupaya menjembatani kesenjangan hubungan Kristen-Muslim yang telah lama mengalami segregasi.
Film berdurasi 35 menit yang dibuat menjelang akhir 2018 ini menyoroti kerja sama dua komunitas perempuan, yaitu Community Center Betabara di Kayu Tiga yang didirikan perempuan Kristen dan Community Center Lograf di Batu Merah Dalam yang didirikan perempuan Muslim, serta aktivitas anak muda lintas agama di Jalan Merawat Perdamaian (JMP) yang memperjuangkan toleransi dan perdamaian pascakonflik melalui penyebaran narasi damai bagi anak-anak di kampung-kampung Kristen dan Muslim.
Film antara lain fokus pada warga Kristen dan Muslim yang sebelum konflik tinggal di kampung Batu Merah Dalam, yang pada saat itu dihuni mayoritas Muslim. Ketika konflik, warga Kristen mengungsi ke Wisma Atlet Karang Panjang selama enam tahun, dan kemudian direlokasi ke Kayu Tiga. Hubungan pertetanggaan beda agama ini kini hilang, dan Batu Merah Dalam kini hanya dihuni Muslim saja, sementara warga Kristen eks-pengungsi sekarang menetap di relokasi Kayu Tiga.
Namun demikian, kaum perempuan tak surut langkah untuk merajut kembali hubungan pertetanggaan itu. Tokoh yang difiturkan dalam film antara lain adalah Cherly Caroline Laisina (l. 1962), sering dipanggil Ote Patty, yang kini tinggal di relokasi Kayu Tiga, dan dulu merupakan warga Batu Merah Dalam. Ketika masih di Batu Merah Dalam, rumah Ote bersebelahan langsung dengan rumah Nafsiah (l. 1969), yang juga difiturkan dalam film. Film juga mengangkat kedekatan hubungan antara Ote dengan Maimuna Palupessy (l. 1967), sering dipanggil Oncu, yang merupakan warga Batu Merah Dalam dan juga difiturkan dalam film.
Apa yang signifikan dari hubungan masyarakat ‘biasa’ yang diangkat dalam film ini? Signifikansinya ada ketika ia diletakkan dalam konteks konflik Ambon yang penuh kekerasan dan segregasi yang menegas pascakonflik.

*Bacaan Pendamping by Indonesian Pluralities (selengkapnya cek website).

You may also like...

Language >>