Pengembangan Model Pembinaan Wirausaha Jamu (Tanaman Obat) Pada Masyarakat Pedesaan

RINGKASAN

Suparti, Mardianto, Ely S.,2010. Pengembangan Model Pembinaan Wirausaha Jamu (Tanaman Obat) Pada Masyarakat Pedesaan. Penelitian Hibah Pekerti Dibiayai DIPA DP2M Dikti. .

Pada tahap pertama telah dihasilkan antara lain :1) Tersusunnya Panduan Teknik Pengolahan Jamu (Tanaman Obat) yang higiene yang sudah di ujicobakan skala kecil dari divalidasi olen Tim Ahli, 2) Dan ; 5 (lima) orang Wirausaba Jamu yang menjadi sampel uji coba hanya 1 (satu) orang yang berhasil memperoleh Sertifikat P-IRT.

Tujuan umum kegiatan penelitian tahap kedua ini adalah: Tersusunnya Panduan Tehnik Pengolahan Jamu (Tanaman Obat) yang higiene. Sedangkan tujuan khusus dalam kegiatan penelitan ini adalah: 1)Tersusunya Panduan Tehnik Pengolaban Jamu (Tanaman Obat) yang higiene yang telah diujicobakan skala besar dan tervalidasi oleh Tim Ahli, 2) Perolehan Sertifikat P-IRT dari Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Malang bagi Wirausaha Jamu (Tanaman Obat) yang teleh memperoleh pembinaan, 3) Pengujian Hasil Produk bagi Wirausaha Jamu (Tanaman Obat) yang telah memperoleh pembinaan di Labomtorium untuk mengetahui kandungan bahan kimia sintetik dan mikrobiologi.

Dalam kegiatan pengembangan Panduan Tehnik Pengolaha Jamu yang Higiene tahap kedua ini peneliti menggunkan modelpengembangan Dick W. & Carey L,. Populasi dari penelitian ini adalah Wirausaha Jamu (Tanaman Obat) di SentraIndustru Kecil Jamu Desa Karangrejo Kabupaten Malang, sedangkan pelaksanaan uji coba produk panduan skala besar diambil 15 orang. Data dikumpilkan dengan dokumentasi, wawancara dan observasi langsung. Tehnik analisis yang digunakan adalah Analisis Diskriptif Kulalitatif.  Hasil akhir yang diharapkan dari kegiatan penelitian tahun pertama ini adalah : Tersusunnya Panduan Teknik Pengolahan Jamu (Tanaman Obat) yang higiene yang sudah di ujicobakan skala besar dan divalidasi oleh Tim Ahli.

Berdasarkan basil dan pembahasan pada bab sebelumnya; maka penelti perlu menyapaikan beberapa saran berikut ini: 1) Selama ini bahan baku diperofeh para Wirausaha Jamu dari pembelian di pasar, sehingga cara penanaman dan pemanenannya tidak dapat diketahui waktu yang tepat pemanfaatan kandungan aktif dari bahan baku tanaman obat yang bersangkutan. Kandungan aktif dari bahan baku tanaman obat inilah yang akan berpengaruh kualitas basil produk. Pada kesempatan lain perlu dikembangkan Cara budidaya bahan baku jamu berupa empon-empon (jahe, kunyit, kencur dan lainnya) yang bigiene, baik cara tanam maupun media tanamannya 2) Peralatan pengolahan jamu (Tanaman Obat) yang digunakn para Wirausaha Jamu pada umumnya masih belum memenuhi persyaratan (kurang higiene), oleh karena diharapkan ada pihak yang menaruhi perhatian untuk memfasilitasi dalam mencari bantuan ke instansi yang terkait (Dinas Perindustrian dan Perdagangan).

You may also like...

Language >>