Meramu Model Konseling Berbasis Budaya Nusantara: KIPAS (Konseling Intensif Progresif Adaptif Struktur)

sampul_depan_prof_andi

Prof. Dr. Andi Mappiare, A.T., M.Pd.

Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Budaya Konseling pada Fakultas Imu Pendidikan disampaikan pada Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Malang Tanggal 28 Februari 2017

“Budaya Konseling” adalah salah satu ilmu hibrida, paduan budaya dengan konseling. Itu bidang ilmu yang dikenakan kepada saya atas persetujuan banyak pihak, mulai dari prodi, fakultas, universitas, dan kementerian. Saya menerimanya dengan senang hati, rasa suka yang mendalam. Oleh karena itu, saya menempatkan uraian mengenai budaya konseling itu pada bagian pendahuluan naskah pidato ini. Naskah ini tersusun atas sembilan bagian: (1) pendahuluan: budaya konseling, (2) suasana kebatinan di belakang ramuan konseling berbasis budaya, (3) modal dasar meramu model konseling, (4) kipas: otak-atik gathukyang ilmiah, (5) unsur-unsur pokok konseling model kipas, (6) penutup: rangkuman dan makna-makna,(7) ucapan terima kasih, (8) daftar rujukan, dan (9) daftar riwayat hidup.

Ada beberapa sari-pati yang dapat kita ekstrak dari uraian dan paparan di depan.

1. Bagian pendahuluan menampakkan adanya hubungan dekat, saling
memberi warna, saling-mengisi antara budaya dan konseling. Budayadapat mempercepat pertumbuhan konseling; konseling dapat memodifikasi budaya, sekurangnya pada tataran komunitas, kelompok kecil, atau individu; dan konseling adalah forum perjumpaan budaya. Upaya meramu konseling berbasis budaya ini adalah kajian yang fokus pada yang tersebut terakhir.

2. Bagian kedua menampakkan besarnya peran pengalaman pribadi dalam pertumbuhan profesional. Kesadaran profesional dan kesadaran budaya mengenai kesenjangan budaya dalam praktik memang berlangsung dalam ranah subjektif. Ini suatu proses “bekerja dengan hati” atau “memasukkan dalam hati” pengalaman kerja. Proses ini menggugah adaptasi budaya dan kajian-kajian ilmiah (objektif) mengenai budaya konseling. Ini mendorong keperluan adanya ramuan konseling berbasis budaya nusantara.

3. Bahasan mengenai modal dasar meramu model konseling, pertamatema, menunjukan pendekatan paduan posmodern, perspektif kritik,dan metode heuristik. Pendekatan paduan ini mengesyahkan adanya
“perlawanan pada kemapanan” konseling (barat). Metode heuristik (kualitatif) menyediakan diri untuk mengesyahkan testimoni pengalaman pribadi dari suatu praktik konseling yang terpercaya. Salah satu wujudnya di sini adalah testimoni flashback ~ mencari jati-diri dalam pertumbuhan pribadi/profesi. Ini lebih menyangkut pencaritemuan isi suatu model konseling.

4. Seayun-selangkah dengan pendekatan posmodern, perspektif kritik, dan metode heuristik, tersedia suatu “teknik Kejawen” yang disebut “otak-atik gathuk”. Sesungguhnya, teknik ini adalah sesifat dengan “Chaos analysis” tipe “Ideononmy”. Dalam meramu isi, format dan struktur konseling berbasis budaya digunakan teknik ini secara ilmiah sehingga membentuk akronim KIPAS. Peramuan akronim ini menjadi mudah karena banyak tersedia sinonim kata bahasa Indonesia. Banyakcontoh akronim dalam konseling, pengajaran, dan bidang lain, yang dibangun secara “otak-atik gathuk” ~ diterima oleh teoretisi dan praktisi.

5. Uraian dan paparan unsur-unsur pokok konseling model KIPAS diawali dengan penegasan bahwa filosofinya turun dari Pancasil Pandangannya mengenai kepribadian berbasis “Sosi-Budaya Nusantara”, berorientasi “Psikologi Timur”, cenderung positif memandang setiap manusia, kehidupan, dan situasi, serta diyakini ada kekuatan di balik kelemahan manusia. Selanjutnya dipaparkan empat akronim pokok KIPAS. Salah satunya adalah nama KIPAS, akronim dari konseling intensif (dan) progresif (yang) adaptif (terhadap) struktur.

Download fullteks Pidato Guru Besar Prof. Dr. Andi Mappiare, A.T., M.Pd.

You may also like...

Language >>